Ma’had Aly, Jumat (12/06/2026) – Hujan yang turun sebelum pelaksanaan salat Jumat menyebabkan kegiatan Workshop Belajar Jurnalistik bersama Media Cetak yang dilaksanakan di Aula Wilayah Al-Amiri harus mengalami kemunduran waktu. Acara tersebut bertujuan untuk memberikan pembelajaran tentang jurnalistik. Kegiatan yang awalnya dijadwalkan pukul 13.00 WIB baru dapat terlaksana sekitar pukul 14.30 WIB akibat cuaca yang tidak memungkinkan.

Workshop tersebut menghadirkan Saiq Khairan selaku Direktur Lentera Institute periode 2025–2027 dan Ahmad Rifai selaku Direktur Media BEM PTNU se-Nusantara sebagai pemateri. Kegiatan ini dihadiri oleh santri dan santriwati Wilayah Al-Amiri dan Al-Lathifiyyah, baik anggota media cetak maupun bukan anggota. Selain itu, perwakilan Cangkruk Literasi dari Wilayah Zaid bin Tsabit (K) turut hadir meramaikan acara tersebut.

Meski mengalami kemunduran waktu, para peserta tetap antusias mengikuti kegiatan tersebut hingga selesai. Dalam penyampaiannya, narasumber pertama, Saiq Khairan, menjelaskan bahwa jurnalistik merupakan aktivitas menulis untuk menginformasikan suatu hal atau fenomena yang terjadi kepada publik. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat sejak lahir, melainkan keterampilan yang dibangun melalui kebiasaan dan latihan. “Menulis bukan bakat dari lahir, tapi ketermapilan yang di asah dari awal”. Kata Saiq.

Sementara itu, Ahmad Rifai menjelaskan mulai dari prinsip-prinsip jurnalistik, macam-macam berita, hingga nilai-nilai dalam berita yang penulisannya tidak luput dari metode 5W+1H. Ia juga menekankan pentingnya semangat dan keinginan yang kuat dalam proses belajar jurnalistik. “Semangat saja tanpa adanya keinginan, pada akhirnya akan berjalan setengah-setengah,” ungkapnya. “menjadi seorang jurnalis itu harus menyampaikan fakta disertai data yang sesuai,” imbuhnya.

Meskipun cuaca kurang mendukung dan mengakibatkan acara selesai lebih sore dari yang telah diperkirakan, kegiatan tetap berlangsung dengan lancar. Kehadiran kedua pemateri juga merupakan bentuk dedikasi dan pengorbanan demi tetap terlaksananya workshop tersebut. “Namanya juga perjuangan dan dalam perjuangan membutuhkan pengorbanan, kira-kira seperti itu,” ujar Ahmad Rifai.

Salah satu peserta mengaku menikmati jalannya acara karena materi yang disampaikan dapat menjadi bekal dalam mengembangkan kemampuan menulis. “Dengan adanya kegiatan ini, saya termotivasi untuk berkarya melalui tulisan agar lebih baik lagi,” ujar Arif, salah satu peserta yang hadir.

Meski beberapa materi belum sempat diterangkan secara keseluruhan akibat keterbatasan waktu, para peserta tetap merasa terbantu karena pemateri membagikan file PDF sebagai bahan belajar lanjutan.

Fahmi Arif Firmansyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *