Nama Imam Syafi’i tentu sudah sangat akrab di telinga kita, masyarakat Muslim Indonesia. Sebagai pendiri salah satu madzhab terbesar, aturan hukum yang beliau rumuskan masih menjadi panduan ibadah kita sehari-hari. Namun, di balik nama besarnya sebagai ahli fikih, beliau sebenarnya adalah sosok yang sangat multitalenta. Beliau menguasai banyak bidang ilmu sekaligus, mulai dari hadits, tafsir,bahasa Arab, hingga ilmu sains.
Beliau memiliki nama asli Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Lahir pada bulan Rajab tahun 150 Hijriah (767 Masehi) di kota Gaza, Palestina, kelahiran beliau bertepatan dengan tahun wafatnya ulama besar Abu Hanifah.
Secara silsilah, Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab murni. Nasab lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf. Nasab ini bertemu langsung dengan nasab Rasulullah SAW pada diri Abdu Manaf, sehingga beliau masih terhitung sebagai sanak kandung Nabi dari jalur paman jauh.
Imam Syafi’i tumbuh besar dalam keprihatinan. Ayahnya, Idris, adalah seorang yang tidak berkecukupan, beliau wafat di ‘Asqalan saat sang imam masih belia. Dalam asuhan ibunya—imam syafi’i kecil dibawa pindah ke Mekkah pada usia dua tahun.
Di Mekkah, mereka tinggal di dekat Syi’bu al-Khaif. Karena keterbatasan biaya, sang ibu mengirimnya belajar ke al-Kuttab (sekolah Al-Qur’an).
Sebelum menginjak usia baligh, beliau sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (pada usia 7 atau 9 tahun). Pada usia 12 tahun, beliau bahkan telah menghafal luar kepala kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik sebelum mereka bertemu langsung. Minimnya sarana pencatatan di kala itu tidak mengurangi semangat beliau untuk menulis hadits-hadits, bahkan beliau memanfaatkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, hingga tulang unta sampai tempayan milik ibunya untuk di jadikan media dakwah beliau.
Ketertarikan awal Imam Syafi’i tertuju pada sastra dan syair Arab. Beliau sempat tinggal bertahun-tahun di pedalaman bersama suku Hudzail—suku Arab yang terkenal paling fasih bahasanya. Di sana beliau menguasai kemurnian bahasa, menghafal seluruh syair, dan mendalami ilmu nasab. Namun, atas nasihat dari Muslim bin Khalid az-Zanji (mufti Mekkah) dan al-Husain bin ‘Ali, beliau beralih mendalami ilmu fiqih.
Selain mendalami ilmu fiqh ,beliau juga sempat berkelana ke berbagai poros peradaban Islam. Langkahnya bermula di Mekkah, tempat beliau mematangkan fondasi fiqih dan hadits di bawah bimbingan Sufyan bin ‘Uyainah serta Muslim bin Khalid az-Zanji. Beliau kemudian bertolak ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik bin Anas. Hubungan ini bermula dari kekaguman Imam Malik atas hafalan kitab Al-Muwaththa’ sang imam yang sempurna, sebuah ikatan belajar (mulazamah) yang terjaga hingga wafatnya sang guru pada 179 H.
Pengembaraan berlanjut ke Yaman untuk menyerap ilmu dari para ulama setempat seperti Mutharrif bin Mazin. Terakhir, beliau merantau ke Baghdad, Irak, untuk menyelami madzhab rasional (Ahlu Ra’yi) langsung dari murid-murid utama Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani dan Abu Yusuf
Melalui guru-guru dari berbagai madrasah ini, kepakaran Imam Syafi’i matang. Beliau berhasil menggabungkan dua kutub besar pemikiran hukum kala itu: Madrasah Hadits (tekstual) dari Madinah dan Madrasah Ra’yi (rasional) dari Irak. Beliau juga menjadi ulama pertama yang menggagas sekaligus membukukan kaidah sistematis metode penggalian hukum melalui kitab monumentalnya, Ar-Risalah.
Ketegasan Imam Syafi’i dalam menegakkan keadilan di Yaman sempat memicu rasa iri hingga beliau difitnah bersekongkol melakukan pemberontakan bersama kaum Alawiyah. Beliau ditangkap dan dibawa dalam kondisi dirantai besi ke Baghdad untuk diadili oleh Khalifah Harun ar-Rasyid. Di tengah situasi menegangkan di mana beberapa tahanan dieksekusi di hadapannya, beliau tetap tenang. Berkat kecerdasannya dan pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan, beliau berhasil meyakinkan Khalifah bahwa penghormatannya pada Ahlu Bait murni karena perintah agama, bukan gerakan politik. Setelah bebas, beliau menolak tawaran jabatan tinggi dan menyedekahkan seluruh harta pemberian sultan kepada fakir miskin demi kembali fokus mengajar.
Sebagai ulama yang gigih membela kemurnian hadits, beliau sangat menolak Ilmu Kalam), hingga dijuluki Nashir as-Sunnah. Ketika iklim politik di Irak berubah pada masa Khalifah al-Makmun—di mana para ahli kalam mulai menindas para ulama hadits (Yaumul Mihnah)—Imam Syafi’i memilih berhijrah ke Mesir. Di tanah baru inilah beliau memperlihatkan keluwesan berpikirnya: beliau merevisi kitab Ar-Risalah dan merumuskan ulang fatwa-fatwanya agar relevan dengan adat serta sosial budaya masyarakat setempat, sebuah fase ijtihad yang dikenal sebagai Qaul Jadid.
Perjalanan panjang demi menyebarkan ilmu dan dakwah membuat penyakit wasir yang beliau idap menjadi semakin parah. Akibat pendarahan hebat dari penyakit tersebut, beliau pun wafat di Kairo, Mesir, tepat pada malam Jumat di akhir bulan Rajab tahun 204 H (820 M) dalam usia 54 tahun.
Meskipun waktu beliau di dunia tergolong singkat, warisan ilmu yang beliau tinggalkan sangat luar biasa dan terus dijaga oleh murid-murid terhebatnya, termasuk Ahmad bin Hanbal, al-Muzani, al-Humaidi, dan al-Rabi’ bin Sulaiman. Dua buku monumentalnya yang masih menjadi fondasi hukum Islam hingga hari ini adalah:
- Al-Umm: Kitab fikih induk setebal 4 jilid yang membahas 128 bab hukum praktis umat Muslim.
- Ar-Risalah: Kitab pertama di dunia yang menyusun panduan ilmiah tentang cara menggali hukum agama (Ushul Fiqih)
